Random header image at Benang Merah

The 7th IAWRT Asian Women’s Film Festival 2011: Energi Baru Film (Tentang) Perempuan

March 23rd, 2011  |  Published in Dari Festival Ke Festival

Satu Harapan | 20 menit | Director: Yuli Andari

Satu Harapan | 20 menit | Director: Yuli Andari

Tanggal 5 - 8 Maret 2011 yang lalu, berkenaan dengan The 7th IAWRT Asian Women’s Film Festival 2011 di India, saya diundang oleh The International Association of Women in Radio and Television (IAWRT) bersama dengan 19 sutradara perempuan dari 14 negara di dunia. Sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi saya. Sebagai salah seorang sutradara perempuan di Indonesia, kehadiran saya di festival ini berkenaan dengan diputarnya salah satu film dokumenter saya yang berjudul “Satu Harapan (One Hope).”

Saya tiba di Indira Gandhi International Airport, New Delhi, pada tanggal 6 Maret 2011 sekitar pukul 23.30 PM waktu India atau sekitar pukul 01.00 AM dinihari waktu Jakarta. Ini pertama kalinya saya ke India sehingga ada perasaan sedikit khawatir karena bepergian seorang diri. Meskipun saya dan panitia festival intensif saling kontak sebulan sebelum acara, namun tetap saja perasaan saya tidak tenang. Begitu keluar dari pintu bandara, seseorang dengan selembar kertas bertuliskan “IAWRT” telah berdiri dengan mata awas mengamati setiap orang yang keluar dari pintu. Tanpa buang waktu, saya segera menghampirinya. Uma Tanuku, perempuan yang bertanggung jawab menjemput saya itu seketika lega melihat saya menghampirinya. Rupanya dia telah menunggu hampir tiga jam di pintu keluar bandara. Saya agak lama di dalam bandara karena saya harus mengurus Visa On Arrival (VOA) dan mengurus bagasi. Kami baru meninggalkan bandara pukul 01.30 AM waktu India atau sekitar pukul 03.00 AM dinihari waktu Jakarta.

Ketika keluar dari bandara dan memesan taksi, saya merasakan cuaca berangin dan sangat dingin di New Delhi. Padahal langit sangat cerah dinihari itu. Menurut Uma, cuaca New Delhi bulan ini lebih mendingan daripada sebulan lalu yang jauh lebih berangin dan lebih dingin. Namun, bagi kulit saya yang selalu merasakan melimpahnya matahari tropis di Indonesia, tetap saja merasa kedinginan. Kami segera mencari taksi dan meluncur ke India International Center (IIC), tempat acara pemutaran film ini berlangsung. IIC terletak di jalan Lodi Road, salah satu jalan utama di New Delhi. Dari dalam taksi, sekilas saya melihat jalanan dan kota New Delhi dinihari. Tampaknya kota ini sangat mirip dengan Jakarta, pikir saya. Begitupula ketika kami mulai memasuki jalan Lodi Road yang sangat mirip dengan suasana jalan di kawasan Menteng. Jalan Lodi Road juga penuh dengan perkantoran perwakilan lembaga internasional seperti UNICEF dan UNDP; serta perwakilan negara asing di India.

Entah mengapa tiba-tiba terbersit dalam pikiran saya tentang pelajaran sejarah terutama mengenai hubungan kerjasama antara India dan Indonesia pada era Presiden Soekarno. Kedua negara ini memiliki banyak persamaan, diantaranya: keduanya pernah mengalami sejarah kolonialisme yang panjang (Indonesia dijajah oleh Belanda selama ratusan tahun, begitu pula India dijajah oleh Inggris) sehingga India maupun Indonesia pernah berjuang untuk kebangkitan mereka sebagai sebuah bangsa. Karena persamaan nasib inilah muncul solidaritas sebagai bangsa terjajah dan mencoba keluar dari belenggu kolonialisme pada waktu yang hampir bersamaan. Presiden Soekarno memiliki hubungan yang sangat dekat Perdana Menteri Nehru, kedua negarawan ini adalah penggagas utama terbentuknya persatuan negara-negara Asia - Afrika yang dikenal dengan Gerakan Non Blok yang menyelenggarakan KTT Asia Afrika pertama di Bandung, Indonesia pada tahun 1955. Selain itu, Indonesia juga pernah membantu India ketika bencana kelaparan melanda negara itu pada tahun 1950-an.

Bila diibaratkan sebagai sebuah perlombaan lari, India dan Indonesia boleh berada di garis start yang sama, namun dalam proses berlari mungkin Indonesia perlu menengok atau belajar dari India tentang pencapaian sebagai sebuah bangsa. Sekilas saya mendengar, India memiliki kebijakan yang ketat dalam mengutamakan kepentingan rakyatnya terlebih dahulu. Pendidikan dan kesehatan sangat terjangkau bagi seluruh rakyat India. Harga buku sangat terjangkau untuk mendukung mahasiswa belajar, termasuk buku-buku penerbit dunia seperti Penguin, Sage, dan Routledge. Terjangkaunya pendidikan bagi seluruh rakyat melahirkan kualitas rakyat yang dapat bersaing di dunia global. Mungkin sudah saatnya, sesama bangsa Asia yang memiliki latar belakang sejarah yang sama saling belajar, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kepedulian. Bisa jadi persoalan bisa diselesaikan lebih cepat dan tepat.

Taksi kami tiba di gedung IIC tepat pukul 04.00 dinihari waktu Indonesia. Uma segera mengantarkan saya ke kamar hotel dan meminta saya segera beristirahat karena festival akan dimulai pukul 09.00 waktu India.

Perkenalan

Di hari pertama kehadiran saya di festival ini, saya disambut oleh senyum cerah Reena Mohan, wakil koordinator festival. Setelah menanyakan kabar saya, Reena kemudian memperkenalkan saya kepada Jai Chandiram, koordinator festival ini. Jai bertanya pada saya tentang kabar Indonesia, rupanya ia pernah mengajar tentang dokumenter untuk kalangan pekerja televisi di Indonesia. Ketika saya bertanya tahun berapakah ia aktif mengajar di Indonesia, Jai menjawab sekitar tahun 1990-an. Itu berarti saya masih SMP dan Jai sudah menjadi profesional di bidang radio dan televisi. Selain dengan Jai, saya juga berkenalan dengan Ibu Kamla Bashin, beliau adalah aktivis feminis asal India yang juga pernah melakukan riset selama bertahun-tahun di Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Begitu bersalaman dengan saya, Ibu Kamla langsung mengucapkan “Selamat pagi”, “Apa kabar?” dan beberapa kata dalam Indonesia lainnya yang masih ia ingat. Sangat menyenangkan bertemu dengannya secara langsung. Selama ini saya hanya mengenalnya lewat beberapa buku dan artikelnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Masih di hari yang sama, saya berkenalan dengan para sutradara perempuan dari berbagai negara di dunia. Kebanyakan mereka adalah perempuan yang sudah menekuni dunia audio visual sejak muda. Mereka rata-rata pernah bekerja di program televisi, lalu memutuskan keluar untuk memproduksi film mereka sendiri. Mereka hampir kompak menjawab bahwa televisi membuat kreativitas mereka tidak berkembang karena adanya sistem kejar tayang. Sedangkan memproduksi film sendiri jauh lebih mengasyikkan, memiliki banyak teman sekaligus bisa memiliki keberpihakan yang jelas pada suara perempuan. Festival ini dihadiri oleh anggota IAWRT yang tersebar di beberapa negara dan para sutradara muda yang baru menekuni dunia audio visual, seperti saya. Beberapa dari mereka sudah sangat memahami tentang pekerjaan di dunia audio visual sehingga salah seorang dari mereka berkata dengan semangat: “ Saya sangat percaya bahwa hanya perempuan yang bisa menyelamatkan media.” Sedangkan para sutradara perempuan yang masih muda dan baru kali ini hadir di festival ini segera membaur dan tidak terkesan minder dengan sutradara perempuan yang lebih senior. Segera terbangun dialog informal dan tukar menukar informasi tentang isu perempuan di berbagai negara. Suatu kebanggaan bagi saya bisa hadir dan menonton film-film yang dibuat oleh sutradara perempuan di festival yang terasa begitu hangat dan akrab ini.

Energi Baru Film (Tentang) Perempuan

Meskipun festival ini sangat singkat, namun saya salut dengan program yang dibuat sangat padat dan fokus pada isu perempuan yang berlaku universal di seluruh dunia. Film-film yang diputar pun mengangkat tema tentang akses pendidikan bagi kaum perempuan, kepemilikan tanah, isu lingkungan dan pengelolaan sumberdaya alam, politik tubuh perempuan, akses terhadap pekerjaan bagi perempuan, dan sebagainya. Isu-isu yang sangat dekat dan dialami oleh kaum perempuan di negara-negara berkembang yang kebanyakan berada di benua Asia.

Saya memutuskan untuk menonton seluruh film yang diputar dalam festival ini. Kapan lagi saya bisa menonton film-film yang dibikin oleh sutradara perempuan dari belahan benua Asia lengkap dengan sudut pandang, isu, dan cerita seru dibalik proses pembuatannya. Semula saya berpikir, kenapa sih tema yang diangkat selalu itu-itu saja (kemiskinan, perempuan yang berjuang mendapatkan pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, dan sebagainya) kalau berkaitan dengan perempuan di negara dunia ketiga. Namun setelah saya menonton seluruh film yang diputar dalam festival ini, saya menyadari bahwa ternyata butuh perjuangan panjang dan tidak mudah untuk menuju kesetaraan. Setiap gerakan perempuan di berbagai negara memiliki tantangan tersendiri dalam menyuarakan aspirasi perempuan, termasuk di Indonesia.

Sebagai sebuah festival yang memiliki penonton spesifik, festival ini memberi kesan yang hangat, akrab, dan sederhana. Seusai pemutaran film, masing-masing sutradara menceritakan sedikit tentang konteks sosial yang berlaku di negara mereka dan alasan utama mengapa film ini mereka bikin. Keberpihakan dan memperjuangkan aspirasi perempuan menjadi benang merah para sutradara ini membuat film-film tersebut. Penonton pun dapat langsung berinteraksi dengan mengajukan pertanyaan kepada para sutradara. Hampir tidak ada persoalan teknis yang ditanyakan di sini. Semua hal yang ditanyakan berkaitan dengan isu, ketertarikan, keberpihakan, dan apa yang coba ditawarkan oleh sang pembuat film terhadap isu yang diangkatnya. Terciptanya dialog antara pembuat film dan penonton, lalu didukung dengan pelaksanaan acara yang tepat waktu membuat festival ini sangat bermanfaat bagi saya.

Seperti lazimnya penyelenggaraan sebuah festival film, The 7th IAWRT Asian Women’s Film Festival 2011 membagi keseluruhan programnya dalam 3 hari penuh. Setiap harinya acara dimulai pukul 09.00 AM dan berakhir pada pukul 20.00 PM. Hari pertama festival ini diisi dengan kegiatan 2 seminar berturut-turut. Seminar Pertama mengangkat tema: “Other Frames: Histories, Identities, Struggles”. Seminar pertama ini menghadirkan dua pembicara yaitu Urvashi Butalia, salah seorang peneliti dan pendiri Kali for Women, koran feminis pertama di India; dan Uma Chakravarti, seorang sejarawan feminis yang juga menggunakan medium audio visual dalam menyuarakan aspirasi perempuan. Dalam seminar ini Urvashi Butalia berbicara tentang penelitian yang dilakukannya seputar menulis kehidupan perempuan, bagaimana peran dan tanggung jawab seorang peneliti selama melakukan penelitian ini. Urvashi Butalia juga menulis buku yang berjudul ”The Other Side of Silence: Voices from the Partition of India”. Sedangkan pembicara kedua, Uma Chakravarti banyak membahas tentang pentingnya penulisan sejarah yang berpihak pada perempuan. Selama ini di India, mungkin juga sama dengan di negara-negara lainnya di dunia representasi sejarah maupun media yang mengabarkan sejarah seperti buku dan film masih didominasi oleh sejarah tentang ‘orang kuat’ yang kebanyakan digambarkan sebagai sosok lelaki, namun sangat sedikit menelisik keadaan dibalik layar dari sejarah itu sendiri yaitu peranan perempuan. Sebagai seorang sejarawan feminis, Uma juga secara kritis konsern terhadap tentang persoalan sosial budaya India termasuk diantaranya persoalan kasta dan gender. Film Uma yang berjudul “A Quite Little Entry” yang didasarkan pada “Fragmen Kehidupan: A Family Archive” karya Mythill Sivaraman, juga diputar untuk mendukung presentasinya tersebut.

Seminar bagian kedua menghadirkan tema: “Now You See It, Now You don’t: Identities, Bodies, Politics” yang menghadirkan Nivedita Menon, seorang profesor dari Departemen Hubungan Internasional, Universitas Jawaharlal Nehru. Ketertarikan profesor Menon pada kajian perempuan dan hukum. Ia telah menulis sebuah buku yang berjudul “Recovering Subversion: Feminist Politics Beyond The Law” dan “Gender and Politics in India”. Presentasinya pada seminar ini mengeksplorasi tentang konstitusi identitas ‘budaya’ dan ‘biologi’ melalui politik praktis. Untuk mendukung presentasi Profesor Menon, beberapa film juga diputar, antara lain: “Untitled” (Ferwa Ibrahim, Pakistan, 2007, 1.5min), “Tapestry” (Sharlene Bamboat, Canada 2009, 7 min), “There Is A Spider Living Between Us” (Tejal Shah, India, 2008, 6 min), dan “In Search Of Aseemun” (work in progress, Taran Khan, India, 2010, 50 min).

Selain kedua seminar di atas, di hari pertama festival ini juga diisi dengan presentasi dari Anupama Srinivasan, seorang sutradara dari India yang menjadi fasilitator workshop bagi para remaja India. Tema workshop ini sangat menarik perhatian penonton karena para remaja ini mampu menangkap isu yang ada di sekitar mereka dan mencoba menuangkan pikiran dan pendapat mereka dalam video. Anupama Srinivasan telah beberapa kali menyelanggarakan workshop untuk para remaja di India. Workshop bersama para remaja India seperti yang dilakukan oleh Anupama Srinivasan ini, juga sudah berkembang di Indonesia beberapa tahun terakhir ini seperti yang dilakukan oleh kalangan NGO yang melakukan pemberdayaan masyarakat melalui media audio visual.

Film Tentang Perempuan Dari Balik Lensa Sutradara Perempuan

Pada hari kedua festival film ini diisi oleh pemutaran film karya sutradara perempuan. Jenis film yang diputar juga beragam yaitu: film dokumenter, fiksi pendek, animasi, dan eksperimental. Film dokumenter pendek yang disutradarai oleh Masanagari Mayuri yang berjudul “A Grandma in Dharwar” menjadi film pembuka pada hari kedua festival ini. Mayuri, 8 tahun, adalah sutradara termuda yang hadir dalam festival ini. Ia mulai tertarik pada kamera saat usianya sangat belia yaitu 6 tahun. Mayuri tinggal dan menetap di sebuah desa pertanian Dharwar. Ia sejak kecil tertarik untuk merekam aktivitas neneknya di lahan pertanian. Sang nenek yang kini berusia 80 tahun hampir menghabiskan sebagian hidupnya untuk bertani secara organik. Melalui pandangan kanak-kanaknya yang sederhana Mayuri mewawancarai neneknya dengan telaten. Dalam pembuatan film dokumenter pendek ini, Mayuri didampingi oleh seorang fasilitator yang hanya akan menjelaskan ketika Mayuri butuh bantuan teknis. Ketika sesi tanya jawab, Mayuri menjawab pertanyaan penonton dengan semangat. Ia menyatakan ingin bercita-cita sebagai petani seperti sang nenek, tetapi ia ingin menjadi petani yang modern dan mampu meningkatkan hasil pertanian di desanya.

Film selanjutnya yang juga banyak mendapat perhatian adalah film dokumenter yang berjudul “Half Value Life” karya Alka Saadat, sutradara Afganistan yang mengisahkan tentang kiprah seorang polisi perempuan dalam menangani kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh para perempuan di Afganistan. Alka yang hadir di tengah penonton menjelaskan sedikit tentang konteks sosial politik di Afganistan pasca Rezim Taliban berkuasa. Kehadiran polisi perempuan ini sangat membantu para perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga namun disisi lain budaya patriarki dalam masyarakat Afganistan yang kental masih belum bisa menerima kehadiran polisi perempuan. Dilema yang dialami oleh Marya Bashir, polisi perempuan pertama di Afganistan sangat kuat digambarkan dalam film ini. Banyak penonton yang terbawa suasana mencekam saat satu persatu kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga ini terungkap.

Isu tentang keadilan dalam akses pengelolaan sumberdaya alam juga diangkat dalam dua film dokumenter dari negara yang berbeda yaitu “One Hope” karya Yuli Andari (Indonesia) dan “Two Steps Forward” karya Gulnar Tabassum (Pakistan). Film “One Hope” memotret tentang aktivitas Ibu Sapiah, perempuan yang mengelola hutan negara melalui skema Hutan Kemasyarakatan (HKm). Ibu Sapiah menggantungkan kehidupannya pada hasil hutan. Ia menjual pisang hasil hutan untuk biaya hidup sehari-hari dan menabung buat pendidikan anaknya. Selain Ibu Sapiah, para perempuan lainnya juga menanam tanaman buah-buahan dalam Hutan Sesaot, Lombok, Indonesia. Hampir 80% kaum perempuan yang beraktivitas dalam kawasan hutan ini, namun hak pengelolaan tanah secara formal masih atas nama suami mereka (kecuali para janda). Ketidakjelasan regulasi pemerintah dalam sektor kehutanan ini terhadap jangka panjang izin pengelolaan hutan masih meresahkan masyarakat setempat, terutama para perempuan yang sangat tergantung kehidupannya terhadap hasil hutan. Sedangkan film “Two Steps Forward” mengisahkan tentang perjuangan para petani perempuan di Pakistan dalam merebut tanah mereka yang akan diambil oleh sebuah perusahaan yang menyewa militer untuk menakut-nakuti para petani. Film ini sangat menarik karena mampu merekam setiap proses yang dialami para petani ini dalam kurun waktu 10 tahun sejak tahun 2000.

Film lainnya yang tak kalah menarik adalah “Made in India” karya Vaishali Sinha & Rebecca Haimowitz. Film dokumenter berdurasi 90 menit ini mengisahkan praktik persewaan rahim di India. Film ini dengan apik mengikuti perjalanan pasangan suami-istri dari Amerika yang melakukan praktik persewaan rahim perempuan India. Selain kisah personal, film ini mampu menyinggung tentang pro-kontra isu wisata reproduksi yang serius dibahas oleh pemerintah India akhir-akhir ini.

Masih banyak film menarik yang diputar dalam The 7th IAWRT Asian Women’s Film Festival 2011 ini. Namun terlalu panjang apabila saya ceritakan satu persartu. Manfaat penting yang saya rasakan setiap kali mengikuti festival film baik di Indonesia maupun di luar negeri adalah dapat menghentikan langkah sejenak, menarik nafas dalam-dalam, dan melihat kembali capaian yang telah dihasilkan. Melalui festival ini saya juga bisa melihat perkembangan isu kajian perempuan di berbagai negara, menikmati capaian baru para sutradara perempuan, dan menyerap energi baru yang ditawarkan oleh program festival yang berisi seminar, dialog dengan para pembuat film, dan berdiskusi dengan penonton. Manfaat lainnya yang saya rasakan adalah dapat saling mengenal dengan para sutradara perempuan di belahan benua Asia, membuka jaringan baru untuk aktivitas perfilman dan memperkenalkan film (dokumenter) Indonesia bagi penonton dan pembuat film dari negara lain. Reena Mohan dan Jai Chandiram dari festival ini secara khusus berpesan kepada saya untuk mempromosikan festival ini kepada para pembuat film di Indonesia mengingat baru tahun ini ada film Indonesia yang diputar di festival ini. Mereka sangat mengharapkan bisa memutar lebih banyak film Indonesia terutama yang dibuat oleh sutradara perempuan Indonesia dalam festival tahun depan.

____________
Yuli Andari
Sutradara Film Dokumenter, tinggal di Yogyakarta, Indonesia

Leave a Response

About Benang Merah

Hal pertama yang dilakukan sebelum mulai merajut adalah membuat simpul awal/slip knot, untuk memulai tusukan permulaan/cast on. Benang Merah merajut sebuah cerita dalam gambar dan suara. Merajut sebuah kisah dunia pada ruang-ruang ingatan manusia dan kehidupannya. Menjadi simpul pada rajutan selanjutnya. . Subscribe via RSS »