Catatan Pemutaran Tiga Film Benang Merah di Belanda
March 1st, 2011 | Published in Cerita Dibalik Layar
Pada tanggal 8 Februari lalu, tiga film dokumenter Benang Merah Production: Joki Kecil (Little Jockey), Bulan Sabit Di Tengah Laut (Crescent Moon Over The Sea), dan Satu Harapan (One Hope) diputar dan didiskusikan dalam forum Indofilmcafe, Belanda. Pemutaran terbatas tersebut dihadiri oleh 40 penonton yang memang memiliki ketertarikan dengan isu sosial budaya di Indonesia.
Menurut Willy, programmer acara tersebut film-film dokumenter Benang Merah memiliki nilai penting yang agak berbeda dengan film dokumenter lainnya. Keunikan sudut pandang pembuat film dan persoalan yang diangkat sangat berbeda terutama soal isu yang dihadirkan. “Film Benang Merah menjadi penting bagi para penonton karena ketiga dokumenter ini memberi kesan mengharukan karena mempertunjukkan kehidupan bagian Indonesia yang berlainan sekali dengan misalnya kehidupan di kota-kota di pulau Jawa. Selain itu secara teknik, ketiga film dokumenter ini sangat “natural”. Maksudnya seperti tidak ada kamera dan orang-orang yang penting dalam dokumenter ini secara natural dan tidak terpengaruh oleh keberadaan kamera,” tulis Willy dalam emailnya kepada Benang Merah.
Lebih lanjut Willy menulis bahwa di beberapa bagian dokumenter tersebut selalu menunjukkan keberpihakan kepada ‘orang-orang kecil’ yang menjadi subyek utama dokumenter. “Kebanyakan penonton terharu pada adegan seorang ibu yang berusaha setiap harinya mencari penghidupan di dalam hutan dalam One Hope, atau kebahagiaan seorang ayah karena anaknya lulus dalam Crescent Moon Over The Sea, serta dilematisnya dunia para joki kecil di Pulau Sumbawa. Semuanya memberikan kesan yang mendalam bagi para penonton,” lanjut Willy.
Seusai pemutaran film, ada kesempatan untuk berdiskusi. Panitia sangat menyayangkan tidak bisa mengundang pembuat film ke Belanda karena alasan dana. “Namun, yang paling penting adalah pilihan film malam itu sangat memuaskan penonton,” kata Willy mengakhiri emailnya.
